Kudeta Myanmar Memakan 39 Korban Jiwa Baru di Pihak Demonstran

Militer Myanmar kembali membunuh para demonstran yang menentang kudeta sejak awal Februari lalu. Tercatat kurang lebih 39 demonstran dalam unjuk rasa yang berlangsung di berbagai kota pada hari Minggu, (14/3/2021) kemarin. Korban terbesar ada di kawasan industrial Hlaingthaya tempat beberapa pabrik perusahaan asal Cina juga terbakar.

Kedutaan Besar Cina di Myanmar hanya mengatakan beberapa warga mereka sempat terjebak dalam pabrik dan mengalami luka-luka. Adapun ketika kebakaran itu terjadi, Militer Myanmar menembaki para demonstran dan mengakibatkan 22 di antaranya tewas.


“Benar-benar mengerikan. Orang-orang ditembak di depan mata saya. Saya tidak akan bisa melupakan hal ini,” ujar salah seorang saksi mata yang enggan disebutkan namanya.


Stasiun televisi yang dikelola oleh Militer Myanmar, Myawadday, menayangkan kebakaran tersebut dilakukan oleh warga. Adapun jumlah pabrik yang terbakar, kata mereka, ada empat dan merupakan pabrik garmen serta pupuk.


Tak lama setelah kebakaran itu terjadi, Militer Myanmar memberlakukan status darurat militer. Dengan status tersebut, maka militer berhak mengambil tindakan langsung dengan alasan untuk mengendalikan atau menertibkan warga yang melakukan perlawanan.


Status darurat militer tersebut diberlakukan Militer Myanmar di berbagai kota. Hlaingthaya adalah salah satunya mengingat besarnya angka korban dan kebakaran di sana


Selain Hlaingthaya, status tersebut juga diberlakukan Militer Myanmar di Yangon yang selama ini menjadi lokasi utama unjuk rasa menentang kudeta.


Militer Myanmar belum mau memberikan keterangan soal kebakaran di Hlaingthaya, korban jiwa yang terus bertambah, ataupun soal status darurat militer yang telah diberlakukan. Anggota Parlemen Myanmar, Doctor Sasa, yang digulingkan oleh junta militer, menyakini warga Hlaingthaya tidak bersalah dan mendukung mereka.


“Pelaku, penyerang, dan musuh dari warga Myanmar, junta militer, akan diminta pertanggungjawaban atas segala darah yang tumpah di tangan mereka,” ujar Sasa.


Dengan 39 korban baru, maka jumlah korban tewas di Myanmar sudah melebihi angka 100. Per berita ini ditulis, negara-negara yang sudah memberikan sanksi kepada Myanmar belum memberikan pernyataan apakah mereka akan memperkuat sanksi terhadap junta militer.

Bagikan:

Bottom Ads