Izin Konser Musik Dibolehkan di Wilayah Zona Hijau

Protokol pencegahan persebaran virus SARS-CoV-2 membuat pekerja musik tak bisa melakukan banyak hal. Larangan kerumunan, jaga jarak minimal 2 meter, pemakaian masker, dan menjaga kebersihan diri menjadi aturan yang umum di kala pandemi ini.


Nah, asa untuk kembali bekerja akhirnya datang. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyatakan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberikan lampu hijau untuk dihelatnya lagi event musik. Lampu hijau itu diberikan setelah Sandi melakukan rapat bersama Sigit secara virtual pada Selasa (9/3).


”Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Kapolri beserta jajarannya karena hasil video conference call kemarin mendapat respons yang sangat positif dari pelaku industri event. Baik itu penyelenggara event di bidang olahraga, musik, MICE, maupun event berbasis budaya,” ujar mantan wakil gubernur Jakarta tersebut.


Sandi menjelaskan, seluruh kegiatan itu harus mematuhi protokol kesehatan dan unsur CHSE. Yakni, cleanliness (kebersihan), health (kesehatan), safety (keamanan), dan environment sustainability (kelestarian lingkungan).


Sandi mengungkapkan, penyelenggaraan event juga berbasis zonasi. Misalnya, jika berada di zona hijau, konser musik atau pertunjukan lainnya bisa diadakan secara offline. Namun, bila berlangsung di zona kuning, penyelenggaraan event harus mengadopsi konsep hibrid. Atau dibuka terbatas secara virtual.


”Seandainya tidak berada dalam posisi untuk dilakukannya kegiatan atau zona merah, akan ada opsi untuk menjalankan kegiatan tersebut melalui virtual,” kata Sandi.


Sandi berharap kelonggaran yang diberikan ini dimanfaatkan dengan baik oleh para pekerja musik dan seni yang selama ini terdampak pandemi. Terutama para penyelenggara.


Asa itu memang disambut baik oleh para pekerja musik dan seni. Salah satunya adalah Wendi Putranto, co-founder M Bloc Space. Dia cukup senang, tetapi tetap tidak mau gegabah dengan langsung menghelat pertunjukan di M Bloc Space. ”Kami masih menunggu surat resmi dari Kapolri,” tegas Wendi.


Meski begitu, sembari menunggu, Wendi sudah punya planing terkait dengan penerapan protokol kesehatan. Jika konser offline diperbolehkan, M Bloc Space tetap akan membatasi jumlah penonton. 


”Kami bakal mengagendakan jumlah penonton cuman 50–60 orang di antara kapasitas normal berdiri itu sampai 500 orang,” jelas Wendi.


Saat ini M Bloc Space juga menggarap kolaborasi bersama Angin Ancol Movement. Yaitu, gabungan artis indie di Jakarta dan Tangerang Selatan. Kolaborasi itu berupa konser offline di M Bloc Space yang bakal diselenggarakan pada 26 Maret selama 7 hari 7 malam.


”Kalau konser offline sudah diperbolehkan, ya syaratnya,” kata Wendi.


Event itu akan diberi nama Grand Rapid Live. Mantan jurnalis musik tersebut menegaskan, protokol kesehatan yang bakal diterapkan pun tidak main-main.


Protokol kesehatan ketat juga sudah siap diberlakukan untuk salah satu festival musik terbesar di Indonesia, Synchronize Fest. Direktur Festival Synchronize Fest David Karto menyatakan, pihaknya sudah sangat siap jika memang Synchronize Fest diizinkan dihelat secara offline. Apalagi, Synchronize Fest 2020 yang bekerja sama dengan televisi sukses dihelat pada akhir tahun lalu dengan penerapan protokol ketat.


”Seharusnya kami bisa mencoba untuk menjalankannya. Bilamana diperbolehkan, pastinya kami dari SF siap berjalan kembali,” tandas David.


Kepala Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny B. Harmadi mengungkapkan, meskipun sudah ada panduan penyelenggaraan event yang aman, event harus dilaksanakan atas seizin satgas Covid-19 di daerah masing-masing.


”Event hanya dilaksanakan di zona hijau,” kata Sonny kepada Jawa Pos Jumat (12/3).

Bagikan:

Bottom Ads